Skip to main content

Sebuah Dilema ketika Seseorang Berbuat Kebajikan

 


# Kebajikan: Kapan Harus Ditampakkan dan Kapan Harus Disembunyikan? Panduan Imam Al-Ghazali

Dilema Spiritual: Menampakkan atau Menyembunyikan Kebaikan?

Dalam kehidupan beragama, kita sering dihadapkan pada pertanyaan praktis: apakah lebih baik menampakkan amal kebajikan atau menyembunyikannya? Di era media sosial, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), dalam magnum opus-nya Ihya' Ulum al-Din, memberikan panduan bijak yang tidak hitam-putih, namun penuh pertimbangan spiritual dan sosial.

Bagi Al-Ghazali, tujuan utama setiap amal adalah mencari ridha Allah (mardhatillah). Namun, manusia hidup dalam masyarakat, dan tindakannya memiliki dimensi sosial. Oleh karena itu, beliau tidak serta-merta menyatakan semua kebaikan harus disembunyikan, atau semua harus ditampakkan. Ada hikmah dan konteks yang perlu dipertimbangkan.



Prinsip Dasar: Keikhlasan sebagai Poros

Al-Ghazali menegaskan bahwa keikhlasan (ikhlas) adalah jiwa dari setiap amal. Amal yang dilakukan untuk pamer (riya') atau supaya didengar (sum'ah) akan gugur pahalanya di sisi Allah. Ini adalah bahaya terbesar dari menampakkan kebaikan dengan niat yang salah.

Namun, keikhlasan bukan berarti selalu bersembunyi. Niat ikhlas bisa hadir dalam amal yang ditampakkan maupun yang disembunyikan, asalkan tujuannya semata-mata untuk Allah, bukan untuk mendapatkan pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi.

Kapan Kebajikan Sebaiknya Disembunyikan?

Al-Ghazali menganjurkan menyembunyikan amal dalam situasi berikut:

  • Amal-amal Rahasia antara Hamba dan Tuhan: Seperti shalat malam, doa pribadi, puasa sunnah, dan sedekah yang sifatnya sangat personal. Menyembunyikannya melindungi dari riya' dan membuat hati lebih fokus kepada Allah.
  • Ketika Niat Masih Rapuh: Bagi mereka yang merasa hatinya mudah bangga atau ingin dipuji, lebih baik menyembunyikan amalnya sebagai latihan (riyadhah) untuk menguatkan ikhlas.
  • Untuk Menghindari Fitnah: Jika menampakkan amal justru akan menimbulkan kedengkian, prasangka buruk, atau permusuhan dari orang lain yang belum memahami.
  • Amal yang Bersifat "Perbaikan Diri": Seperti meninggalkan maksiat atau berjuang melawan hawa nafsu. Proses ini lebih baik disembunyikan sebagai bentuk kesungguhan dan kejujuran pada diri sendiri.

Al-Ghazali mengutip hadis dan kisah para salaf yang sangat menjaga kerahasiaan amal mereka, bahkan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.


Kapan Kebajikan Boleh/Tepat Ditampakkan?

Menampakkan amal bukan selalu buruk. Dalam konteks tertentu, justru menjadi keutamaan (fadilah) dan kewajiban sosial:

  • Untuk Menjadi Teladan (Qudwah): Seorang pemimpin, guru, atau orang yang dianggap figur sebaiknya menampakkan amal kebajikan tertentu (seperti tepat waktu ke masjid, aktif dalam kegiatan sosial) untuk menginspirasi dan mendorong orang lain mengikutinya.
  • Untuk Menegakkan Syiar Agama: Pelaksanaan shalat Id, haji, atau sedekah umum adalah contoh amal yang memang ditampakkan sebagai simbol keagungan Islam dan membangkitkan semangat berjamaah.
  • Ketika Manfaat Sosial Lebih Besar: Seperti membangun masjid, sekolah, atau proyek sosial lainnya. Menampakkannya dapat mengajak lebih banyak orang berpartisipasi (mendorong ta'awun/tolong-menolong).
  • Untuk Menghilangkan Keraguan atau Fitnah: Jika seseorang dituduh tidak shaleh atau diragukan komitmen agamanya, ia boleh menunjukkan amal baiknya untuk meluruskan pemahaman, asalkan niatnya lurus.

Ujian Sejati: Melawan "Riya' yang Halus"

Al-Ghazali mengingatkan bahaya tersembunyi: riya' yang halus. Ini terjadi ketika kita merasa lega atau senang setelah menyembunyikan amal, karena merasa diri lebih hebat dari orang lain yang pamer. Ini adalah bentuk riya' tingkat tinggi! Artinya, kebanggaan itu tetap ada, hanya berpindah dari "tampak di mata orang" menjadi "tersembunyi di hati".

Oleh karena itu, ujian sebenarnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri dan pengawasan hati. Apakah kita menyembunyikan amal karena Allah, atau justru untuk merasa lebih spiritual? Apakah kita menampakkannya untuk Allah, atau untuk pencitraan?

Kesimpulan Bijak Al-Ghazali: Timbang dengan Hati yang Waspada

Imam Al-Ghazali tidak memberikan rumus tunggal. Beliau mengajak kita untuk bermuhasabah (introspeksi) sebelum bertindak:

  1. Periksa Niat: "Untuk siapakah aku melakukan ini?"
  2. Evaluasi Konteks: "Apa dampak sosial dari menampakkan atau menyembunyikan amal ini?"
  3. Kenali Kondisi Hati: "Apakah hatiku cenderung riya' atau ujub? Lebih butuh latihan apa?"

Dalam banyak hal, jalan tengahnya adalah menjaga kerahasiaan amal pribadi (seperti sedekah, shalat sunnah) sebagai benteng keikhlasan, namun tidak menghindar untuk terlibat dalam kebaikan publik yang nyata dan berdampak luas, dengan terus memohon kepada Allah agar membersihkan hati dari segala penyakit.

"Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS Al-Kahfi: 110)

Refleksi: Coba renungkan satu amal kebajikan yang baru saja Anda lakukan. Apakah lebih baik ia tetap menjadi rahasia antara Anda dan Allah, atau justru bisa menginspirasi jika diceritakan? Dengarkan suara hati yang paling jujur.

Tags: #ImamAlGhazali #Ikhlas #Riya #AmalSholeh #SpiritualitasIslam #PsikologiIslam #EtikaBeramal #MuhasabahDiri

Comments

Popular posts from this blog

PERBEDAAN ANTARA PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN, PROSES BELAJAR MENGAJAR, DAN HASIL BELAJAR.

Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni penilaian program pendidikan, penilaian proses belajar mengajar   dan penilaian hasil-hasil belajar. Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.

Bacaan Sebelum Shalat Witir

ü     اوتروا ومجدوا وعظموا شهر الصيام رحمكم الله @ لا إله إلا الله ، وحده لا شريك له ، له الملك ، وله الحمد ، يحيي ويميت،  وهو على كل شيء قدير.... ü     اللهم صل على سيدنا محمد @ صلى الله عليه وسلم. ü     اللهم صل على سيدنا ونبينا وحبيبينا وشفيعنا وذخرنا ومولانا محمد @ صلى الله عليه وسلم.

Cerita Bagus dari Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini

Di baghdad ada seorang laki laki menikah dengan anak puteri pamannya sendiri. Dalam pernikahan itu ia berjanji tidak akan menikah lagi dengan wanita lain. Suatu hari ada seorang perempuan datang (belanja) ke tokonya. Ia meminta lelaki itu untuk menikahi dirinya. Lelaki itupun bercerita apaadanya, bahwa dia telah mengikat janji dengan  istrinya (anak pamannya)untuk tidak akan kawin lagi dengan wanita lain.